Sabtu, 28 April 2012

Berburu kursi, berebut jabatan

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Haedar Nashir*

Abu Dzar al-Ghifari sahabat Nabi SAW yang zuhud dan wara. Sebagai sosok yang saleh dan sangat bersahaja. Dia bahkan tokoh ternama ahl al-shufah, yang selalu berkumpul di beranda rumah Nabi bersama mereka yang ahli ibadah, tetapi cenderung menjauhi dunia. Ketika figur yang baik ini meminta jabatan, seraya Nabi mencegahnya. Bahwa urusan publik harus ditunaikan oleh ahlinya sekaligus mampu mempertanggungjawabkannya.

Umar bin Khattab ketika hendak menerima amanat kekhalifahan menggantikan Abu Bakar merasa berat, karena betapa ia merasa tak mampu melampaui kebaikan Khalifah pertama itu. Padahal, sejarah mencatat betapa Umar yang lebih suka disebut Amir al-Mu'minin itu terbilang pemimpin yang kuat, sukses, dan paling menjunjung tinggi amanat dalam mengurus rakyat. Dialah sosok al-Faruq.

Khalid bin Walid setelah masuk Islam menjadi panglima perang tertangguh hingga dijuluki Nabi sebagai syaifullah (pedang Allah). Perluasan Islam hingga ke Mesir, Irak, dan Syam di masa Khalifah Umar bin Khattab tidak lepas dari keperkasaan Khalid. Tetapi, dalam peristiwa penaklukan Syam, Khalid tiba-tiba dicopot Umar dari jabatannya sebagai panglima perang. Bagaimana sikap Khalid? Dia ikhlas menerimanya seraya berkata, aku berperang bukan karena Umar, melainkan karena Allah.

Bagi Nabi dan para sahabatnya yang utama jabatan bukan posisi yang ditempati, apalagi harus dikejar dengan hasrat ambisi. Jabatan itu mutlak amanah yang wajib ditunaikan dengan komitmen dan pertanggungjawaban yang tinggi. Kesatriaan (al-futuwwah) siapa pun yang bersedia memegang jabatan umat atau rakyat terletak pada penunaian amanah dan pertanggungjawabannya dengan penuh kehormatan diri.

Komitmen jabatan
Di negeri ini, para elite dan anak-anak negeri banyak berburu jabatan-jabatan publik dengan penuh percaya diri. Demokrasi telah mengajarkan secara fasih bagaimana para elite berebut posisi politik tanpa rasa sungkan, tidak jarang dengan sikap narsis, dan gampang beriklan diri. Demi posisi tinggi, politik uang dan upeti pun menjadi tradisi, yang tidak jarang diperoleh dengan korupsi. Semuanya seolah serbamudah dan sekadar jalan mobilitas diri seakan tanpa konsekuensi.

Semoga niat utama meraih posisi-posisi publik yang penting dan strategis itu benar-benar bermotif mengabdi pada negeri dan mengurus hajat hidup rakyat. Sebagai jalan mewujudkan cita-cita nasional yang diletakkan oleh para pendiri bangsa ini. Lebih bermakna lagi manakala menjadi jalan menuju rida Tuhan. Sebab, setiap posisi publik selain dibayar dengan uang rakyat, seluruhnya memang untuk mengurus hajat hidup orang banyak sehingga negeri ini semakin maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat.

Alangkah naif manakala jabatan-jabatan publik itu hanya dijadikan lahan mobilitas diri untuk meraih kuasa, harta, dan kejayaan duniawi. Sejumlah kasus tragis menunjukkan mereka yang sudah di posisi-posisi publik itu kalau tidak korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan, kemudian pindah posisi, bahkan lompat jabatan baru ke yang lebih tinggi sebelum jabatan lama usai. Jabatan-jabatan penting itu malah dijadikan "bancakan" untuk bagi-bagi uang dan posisi, sekaligus memperkaya diri dan kroni. Mereka lupa posisi yang ditempati bukanlah miliknya sendiri, melainkan sekadar titipan rakyat untuk ditunaikan sebagai amanah terpuji.

Tahun 2014, pasti akan menjadi masa paling krusial di negeri ini. Para menteri dan politisi sudah bersiap diri 'nampang' posisi hingga iklan diri dengan uang dari kementeriannya. Janji dan pesona diri tentu akan semakin bertaburan. Para wakil rakyat pun malah giat bangun toilet dan ruang sidang miliaran rupiah seolah uang negara adalah miliknya sendiri. Rupanya jabatan bukan lagi amanat yang harus dipertanggungjawabkan secara jujur dan penuh komitmen, kecuali menjadi sarana bermegah-megah di tengah derita rakyat yang diwakili dalam hidup miskin dan teraniaya sistem.

Kita tidak tahu persis apa yang bersarang dalam benak pikiran para elite dan anak negeri yang menempati jabatan-jabatan publik di negeri ini. Bagaimana mereka menjiwai, memahami, memaknai, dan melaksanakan fungsi jabatan yang diembannya dengan pertanggungjawaban total. Apa yang mereka cari? Jangan-jangan Max Weber benar ketika mengatakan, profesi politik itu mata pencaharian. Orang banyak mengejar dan memperebutkannya sekadar untuk kenyang diri dan kroni. Lalu, nilai dan idealisme sekadar ornamen indah tanpa makna, karena yang dikejar ialah posisi, materi, dan mobilitas diri yang tak bertepi.

Lemah karakter
Rakyat sesungguhnya gundah dengan perangai para elitenya yang banyak polah. Sebelum menduduki posisi mereka mungkin banyak sosok idealis. Bahwa politik dan jabatan publik itu jalan berkhidmat untuk kemajuan bangsa dan negara, bukan mengejar harta dan takhta. Uang dan jabatan pun diperoleh dengan cara halal, bukan dengan muslihat dan upeti. Jabatan pun ketika sudah di tangan dimanfaatkan untuk pengkhidmatan, sekaligus dapat dipertanggungjawabkan sebagai amanah di hadapan Tuhan. Tunaikan amanah karena tak ada iman bagi yang tak menunaikan amanah, sabda Nabi.

Bagi mereka yang idealis jabatan bukan diburu, apalagi dipertukarkan dengan uang dan jabatan lain yang menggiurkan. Jabatan pantang diselewengkan dan dijadikan lahan korupsi dan penyimpangan. Sekali jabatan diterima maka saat itu jabatan berubah menjadi amanah dan janji yang wajib ditunaikan dengan kesungguhan. Taruhannya kehormatan diri, bahkan jiwa. Jabatan bukanlah kejayaan dan kemegahan diri. Jabatan bukan dijadikan jalan tol memenuhi hasrat-hasrat loba dan tamak.

Ketika banyak pejabat publik menyelewengkan jabatan dan menjadikannya lumbung uang serta kemegahan tanpa rasa sungkan, sesungguhnya akar masalahnya bukan pada sistem belaka, tetapi pada penyakit mental mereka. Penyakit lemahnya karakter diri selaku manusia-manusia yang tangguh dengan prinsip dan makna hidup, sekaligus tahan cobaan dan godaan duniawi. Mereka kehilangan karakter amanah, kejujujuran, kesetiaan, kesahajaan, kebaikan, kesatriaan, dan kepatutan. Mereka bahkan kehilangan rasa malu dan kehormatan diri.

Penyakit lemah karakter yang menumbuhkan jiwa korup, penyimpangan, kemegahan, dan lupa diri boleh jadi tumbuh dalam virus keterbelakangan mentalitas laksana orang yang tiba-tiba "munggah bale" (naik takhta) kemudian mengalami kejutan budaya. Penyakit "munggah bale" tidak mengenal latar belakang suku, ras, dan golongan. Tidak pula mereka yang sekuler atau agamis. Bagi mereka yang agamis bahkan penyakit jenis ini diperkuat dengan spirit dan dalih keagamaan sehingga terkesan sakral dan sarat pesona moral.

Penyakit  "munggah bale" telanjur meluas dan diproduksi lewat berbagai media yang populer, mengundang hasrat anak-anak bangsa lainnya untuk mengikuti jejak berebut takhta tanpa pertanggungjawaban moral yang tinggi. Banyak anak negeri bahkan belajar menjadi broker guna menapaki tangga politik, yang mengorbankan idealisme kebeliaan. Seolah jabatan dan mobilitas hidup itu sekadar nilai guna, yang harus diraih dengan cara apa saja untuk kesenangan dan kejayaan diri minus nilai dan makna utama.

Mentalitas "munggah bale" dipersubur oleh hasrat berlebih melahirkan akumulasi ketamakan kuasa. Orang biasa dan terpandang, elite sekuler dan agamis, setelah berkuasa sama-sama lapar takhta dan harta. Pada setiap kemegahan dan ketamakan selalu ada dalih pembenar yang meyakinkan publik. Kata pepatah Arab, singa-singa lapar tak mendekat ke telaga bila anjing-anjing telah menjilatnya. Tapi, bagi para singa berdasi, apa saja boleh tanpa rasa sungkan. Alhakumu at-takatsur, hatta jurtumu al-makabir. (QS At-Takatsur: 1-2)


Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Tulisan ini dikutip dari Harian Republika Edisi Minggu, 15 Januari 2012 dengan judul "Berburu Kursi"

Selasa, 06 Desember 2011

Alquran, Manual Book Kita

Alquran, Manual Book Kita

Jumat, 02 Desember 2011 08:22 WIB
Oleh : Bhintoro Shati Aji


Setiap produk buatan baik elektronik ataupun teknologi pasti memiliki "Manual Book/User Guide", fungsinya tentu sebagi pedoman menggunakan benda tersebut agar digunakan secara semestinya. Isinya mulai dari fungsi produk tersebut, cara pemakaian, cara perawatan hingga larangan-larangan yang harus dipatuhi dalam penggunaannya.

Sebagai contoh, sebuah produk ponsel, tak boleh terkena air karena akan mengurangi kemampuan kerjanya atau bahkan rusak. Bila mengikuti anjuran manual book itu, maka setiap produk pasti lebih awet dan terjaga kinerjanya sehingga akhirnya menguntungkan bagi pemakainya. Sebaliknya jika penggunaannya melenceng dari buku tersebut maka yang terjadi adalah kemunduran manfaat produk atau bahkan kerusakan dan akhirnya merugikan pemakainya. Seluruh produsen produk yang mngeluarkan buku tersebut pasti menganjurkan kita untuk membaca buku itu sebelum menggunakan produknya.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang juga diberikan manual book, sebuah pedoman untuk manusia untuk menjalani kehidupannya. Buku tersebut dibuat karena Dia pasti tahu tujuan penciptaan  kita (manusia), cara dalam menjalani hidup dan larangan-larangan yang harus dipatuhi. Buku itu bernama Alquran, sebuah pedoman yang harus kita ikuti dan patuhi agar kita tahu untuk apa sebenarnya kita di ciptakan, sehingga kita tahu bagaimana cara menjalani kehidupan semestinya, serta larangan-larangan yang tak boleh kita lakukan.

Allah SWT menghendaki kita membaca dan memahaminya lalu mengamalkan dan mengikuti Alquran secara sempurna agar kita selamat dalam menjalani kehidupan kita yang tidak hanya di dunia ini tapi juga di akhirat.

 Jadi mari sekarang juga kita membaca, memahami dan mengamalkan  Alquran agar kita tak merugi dan celaka dalam hidup kita yang sementara ini. Sungguh Allah SWt tak ingin manusia hidup di belantara dunia dalam kebingungan dan kesesatan. Oleh karenanya Allah menurunkan Alquran untuk kita melalui lisan Rasul yang Mulia Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 2,  “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Dilanjutkan dengan pernyataan Allah dalam surah An-Nahl ayat 89, yakni  “…..Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Rasulullah SAW, bersabda, “Jangan jadikan rumah kalian kuburan. Sungguh, rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al-Baqarah tidak dimasuki setan.” (HR At-Tarmidzi)

“Pelajari, baca, dan amalkan Alquran. Perumpamaan Alquran pada orang yang mempelajari, membaca, dan mengamalkannya seperti belalang yang berlumur kesturi. Ia dapat mengharumkan semua tempat yang dihinggapinya. Sedangkan perumpamaan Alquran pada orang yang mempelajarinya saja, lalu diam tidak mengamalkan laksana belalang yang hinggap diatas kesturi.” (HR At-Tarmidzi) Wallahu a’lam bis shawab.
Penulis adalah sahabat Republika Online

Senin, 10 Oktober 2011

Biarkan dirii kita ,.. Menjadi yang terbaik

oleh Sandi Sahputra pada 08 Oktober 2011 jam 22:22

Assalamu 'alaikum,..

sahabat ku yang mengharapkan keindahan islam , keindahan hidup dan keindahan hati ,..mari kita dengan sepenuh hati bersyukur atas apa yang Allah swt berikan pada diri kita ini ,..

Pada dasarnya setiap manusia bisa menjadi yang terbaik dari dirinya apapun latar belakangnya, status sosial maupun ekonomi . Namun mengapa masih banyak manusia bahkan lebih dari lima puluh persen dari jumlah manusia di dunia yangtidak merasa demikian. Lalu dimana letak kesalahannya? Apakah semua itu sudah suratan takdir alias Nasib? Seandainya benar, apakah kita yakin kalau Tuhan menginginkan manusia yang notabene ciptaanNya yang paling sempurna ini menjadi sengsara dan merana. Tentu saja tidak. Hal ini bisa saya buktikan dengan kelebihan-kelebihan yang dianugerahi oleh Sang Pencipta kepada mahluk ciptaanNya yang disebut Manusia.
.
Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk ciptaan lainnya. Selain dikarunia dengan bentuk tubuh yang fungsional, susunan tulang dan otot yang dapat memungkinkan untuk melakukan gerakan yang berbeda-beda, manusia masih dikarunia sebuah otak yang super canggih yang dapat mengontrol denyut jantung kita sampai dengan 100.000 kali/hari dan mampu mengatur kinerjamemompa 25 000 liter darah melalui pembuluh darah yang panjangnya kalau dihubungkan dari ujung ke ujung panjangnya mencapai 100,000 km dan ini sama dengan panjang2 kali bumi apabila ditarik garis lurus mengitari garis khatulistiwa. Itupun hanya sebagian kecil dari kemampuan otak kita dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya uraikan. Sungguh luar biasa apa yang mampu dilakukan oleh otak kita yang beratnya hanya 1.5 kg. Semua itu pula diatur dengan sendirinya oleh otak tanpa harus dipantau oleh si pemilik otak. Sungguh menakjubkan! Sebelum anda melanjutkan membaca artikel ini saya ingin anda merenung sejenak untuk menyadari betapa kita memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk kita dayagunakan untuk keberhasilan kita.

Jadi setelah menyadari keistimewaan diatas lalu apakah masih ada alasan bagi kita untuk menyalahkan Sang Pencipta apabila kita tidak dapat menjadi yang terbaik? Jadi apa yang menjadi penyebab bahwa manusia tidak bisa berprestasi? Ada beberapa faktor namun ada satu faktor yang sangat dominan dan hampir dialami oleh sebagian besar orang yaitu keyakina. nKeyakinan adalah sebuah kekuatan yang akan mendorong anda untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan anda. Keyakinan bagaikan kompas atau peta bagi manusia untuk menuju sasarannya. Faktor terbesar untuk menjadi yang terbaik adalah bukan terletak pada kemampuan maupun ketrampilan yang dimiliki melainkan pada Keyakinan.

Namun

Keyakinan atau Belief System adalah dapat menjadi faktor penentu keberhasilan ataupun penentu kegagalan bagi manusia.


Mari kita lihat bagaimana keyakinan dapat sangat berpengaruh pada proses tercapai atau tidaknya sebuah prestasi. Bagaimana keyakinan itu tercipta? Keyakinan bisa tercipta dari pengalaman seseorang dan juga dari referensi atau contoh. Keyakinan berdasarkan pengalaman tercipta ketika anda melakukan suatu kegiatan, sedangkan keyakinan yang berdasarkan referensi atau contoh tercipta setelah anda melihat orang lain melakukannya. Misalnya anda melakukan suatu usaha ,apabila berhasil maka hasil tersebut akan menambah keyakinan dalam diri anda bahwa anda mampu, sebaliknya kalau gagal maka hasil tadi juga akan menambah keyakinan bahwa anda memang tidak mampu.
Dan kalau yang diambil oleh anda sebagai kesimpulan terakhir adalah ketidakmampuan maka selamanya anda tidak mampu. Kesimpulan ini sangat berbahaya karena akan terprogram secara tak sadar di dalam otak sebagai sebuah keyakinan baru yang negatif.

Para Achiever atau orang yang berprestasi didunia memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap kemampuan merekadalam meraih prestasi puncak dalam karir maupun kehidupan.

 Keyakinan yang sangat kuat bahwa kita mampu menjadi yang terbaik.


Apakah kita siap? Karena keyakinan juga dapat tercipta karena referensi atau contoh pengalaman orang lain dan diri kita maka anda juga bisa mengambil atau bahkan "memodel" keyakinan dari orang-orang sukses


" Keyakian anda sangat menentukan keberhasila anda "


Wassalam ,..

Minggu, 18 September 2011

Sosok Seorang PR

Sosok Seorang PR

Oleh muhammd ilyas· 
1. Ability to communicate (Kemampuan dalam berkomunikasi)
Sebagai tenaga PR, harus mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi,
baik secara lisan maupun tertulis. Kemampuan lisan digunakan ketika berhadapan
langsung dengan pihak-pihak personal diluar perusahaan. Kemampuan berkomunikasi
lisan ini terkait dengan sifat-sifat seorang tenaga PR yang bisa mendukung keberhasilan
komunikasi, Misal : sikap ramah kepada orang lain, jelas dan bisa bertutur dengan
runtut ketika menjelaskan sebuah masalah atau sebuah informasi tertentu. Dalam hal ini
bisa senyum saja tak cukup. Sedangkan, kemampuan komunikasi tertulis diperlukan
misal : untuk menjawab komplain dari warga masyarakat yang dilayangkan lewat surat
pembaca media

2. Ability to organize (Kemampuan Manajerial).
Kemampuan managerial ini diperlukan misalnya ketika ada event-event
yang akan digelar oleh sebuah perusahaan atau lembaga. Terutama, misalnya ketika akan
menggelar press conference yang dihadiri berbagai media untuk menjelaskan
(mempublikasikan) perusahaan atau lembaganya. Seorang tenaga PR harus bisa
mengatur kondisi ruangan, tata letak sampai kepada bagaimana seorang pejabat sebuah
perusahaan atau lembaga tampil bagus dan memukau ke publik. Ketidakmampuan dalam
memanagerial ini bisa berakibat fatal bagi perusahaan. Jika pada awalnya event-event
maupun press konference tersebut di setting untuk memberikan keterangan yang baik
perusahaan atau lembaga untuk masyarakat luas, bisa jadi ketika tidak ada manajemen
yang tertata justru malah akan berbalik arah memperburuk citra.

3. Ability to get on with people (Kemampuan membina relasi).
Kemampuan ini terkait dengan soal membangun jaringan. Seorang tenaga
PR akan lebih baik ketika mereka mempunyai jaringan (net work) yang luas. Kalaupun
tidak, mereka dipastikan orang-orang yang cepat, tanggap, bisa belajar membangun
sebuah jaringan (lembaga maupun personal). Tentu kemampuan ini bukan untuk
kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan lembaga atau perusahaan tempat
dimana dia bekerja. Dalam bahasa yang sederhana, seorang tenaga PR adalah mereka
yang mudah bergaul dengan siapa saja, fleksible dan tidak kaku dalam menghadapi
publik. Dalam sebuah perusahaan atau lembaga, kemampuan membangun relasi ini tentu
akan sangat punya pengaruh positif terhadap keberhasilan atau goal (tujuan) yang
diinginkan semula.

4. Personality Integrity (Kepribadian jujur dan profesional).
Karena tugasnya bersinggungan dengan orang banyak, seorang tenaga PR
mutlak untuk berkepribadian jujur. Jika dalam tugasnya, misalnya ketika memberikan
keterangan perusahaan atau lembaganya itu berbelit-belit bahkan bohong. Maka, dengan
sendirinya akan menghancurkan perusahaan atau lembaganya tersebut. Dalam prakteknya
ada sebuah rumus yang sering digunakan oleh para PR yaitu “BICARALAH YANG
BAIK ATAU DIAM”. Artinya, untuk konsumsi publik, yang penting adalah
mempublikasikan yang baik-baik saja, tidak perlu mengekspose keburukannya. Kalau
memang ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atau dikecewakan, baru diberikan
penjelasan secara jujur dan apa adanya atas sebuah masalah yang dikehendaki. Usahakan
dari pihak yang mempermasalahkan menerima baik penjelasan yang diberikan.
Sementara pihak lembaga atau perusahaan sendiri juga tidak terlalu terpojok dengan
kabar buruk yang bisa jadi memang terjadi dan benar adanya.

5. Imagination ( kreatif)
Pekerjaan PR itu dinamis, banyak hal yang akan dihadapi. Apalagi kalau
mencermati perkembangan jaman sekarang dimana teknologi dan informasi begitu pesat.
Saat ini, soal citra tidak hanya bisa berlangsung dan dibaca lewat media massa. Era ini
adalah eranya internet. Maka, mau tak mau tenaga PR harus akrab dengan teknologi dan
kreatif untuk berhubungan tak hanya di dunia nyata, tetapi juga dalam dunia maya.
Jangan sampai tidak tahu ketika ada masalah mengguncang yang
memperburuk citra walau hanya sebatas e-mail seseorang di dunia maya. Bisa jadi email
tersebut akan meluas, menyebar kepada publik padahal bisa jadi isinya salah dan
menyesatkan. Dalam hal ini tenaga PR harus kreatif dan berinisiatif melakukan klarifikasi
atas sebuah pemberitaan dan informasi yang simpang siur dan tidak benar tersebut.Ayo Mulai Dengan Semangat !!!Semua Ciri-Ciri itu Bisa Kita Bentuk Dari Sekarang !!!Semoga Berguna !!!

Minggu, 19 Juni 2011

Agama dan Survei Prematur

Rabu, 15 Juni 2011 02:00 WIB
Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Pada 1990-an sebuah hasil riset di AS tidak boleh dipublikasikan. Penelitian itu menyimpulkan kecerdasan seseorang berbanding lurus dengan ras. Ras paling cerdas berdasarkan urutan adalah (1) Ras kuning, seperti orang Cina, Jepang, dan Korea. (2) Ras putih, seperti orang kulit putih Amerika dan Eropa. (3) Ras cokelat, seperti orang Arab, India, dan Pakistan. (4) Ras sawo matang, seperti orang Melayu, Thailand, Vietnam, dan Filipina. (5) Ras negroid, yaitu kulit hitam.

Pelarangan publikasi itu disebabkan oleh kesimpulan yang bisa memicu ketegangan etnis di AS. Itu artinya, orang kulit hitam yang hampir separuh di AS tidak pantas menjadi presiden karena berasal dari ras paling tidak cerdas. Kalau saja riset ini dipublikasikan, mungkin Obama tidak akan menjadi presiden AS.

Di Indonesia, sedang marak lembaga-lembaga survei dan yang disurvei pun  bermacam-macam, termasuk kualitas akidah dan tingkat keyakinan seseorang terhadap agamanya. Tidak terbayang, apakah objek yang maharumit ini bisa diukur dengan survei dangkalan. Ironisnya, survei yang luar biasa susahnya ini dipublikasikan sebebas-bebasnya di dalam masyarakat sehingga kadang hasil survei ini membuat orang lain jadi shock, stres, memicu terjadinya kecemburuan, konflik, dan intoleransi.

Survei yang baru-baru ini dipublikasikan menuding meningkatnya populasi garis keras umat Islam secara tajam dan semakin meluasnya intoleransi umat Islam di dalam masyarakat. Respondennya jamaah masjid, komunitas pondok pesantren NU, dan majelis-majelis taklim. Angka-angkanya amat fantastik, sebagaimana bisa diikuti di media internet.

Apa betul umat Islam Indonesia sudah lebih radikal? Apa betul kurikulum agama kita sudah sedemikian parah sehingga harus dirombak total? Apa betul para mubaligh dan guru-guru agama kita sudah menjadi penganut Islam garis keras? Apa betul pondok-pondok pesantren dan madrasah sudah terkontaminasi aliran keras sehingga perlu di-rebrain washing? Apa betul orang menjadi teroris dan garis keras itu karena terjemahan Alquran Kementerian Agama yang rusak? Apa kebobrokan Kementerian Agama sudah sedemikian parah sehingga sudah waktunya untuk dibubarkan? Jangan sampai kita tidak sadar menjadi penari latar yang gendangnya ditabuh orang lain.

Hak intelektual setiap orang untuk melakukan survei apa saja. Namun, kewajiban intelektual juga harus diindahkan. Idealnya, setiap survei tidak boleh cacat metodologis, apalagi jika yang disurvei objeknya sensitif. Jangan sampai survei yang dilakukan by order dan by design kelompok tertentu atau hanya untuk mencari perhatian dan keterkenalan. Kita bisa mencari uang, tetapi sebaiknya tidak dengan menjual survei prematur.

Kalau objek survei itu perilaku pasar, konstituen politik, dan objek-objek measurable lainnya, tentu wajar bahkan menjadi ciri masyarakat modern. Akan tetapi, jika yang disurvei persoalan mendasar dan sensitif, seperti menyangkut kepercayaan dan harga diri etnik tertentu, sebaiknya lembaga survei itu berhitung lebih jauh untuk memublikasikan hasil surveinya. Ilmuwan ideal ialah ilmuwan yang arif, yakni tidak semua unek-unek dan hasil temuannya dilempar ke masyarakat.

Minggu, 03 April 2011

islam dan jurnalisme

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6).
Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan petunjuk kepada penganutnya secara lengkap. Tidak ada satu bidang kehidupan pun yang tidak terjangkau oleh ajaran Islam. Termasuk jurnalisme.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat: 6, misalnya, disebutkan peringatan Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,  periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Allah SWT telah memberikan panduan kepada kaum muslimin dalam menyikapi berita yang disiarkan oleh orang-orang fasik. Jangan percaya begitu saja.

Siapakah orang-orang fasik? Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah: 26-27 disebutkan, ”.... Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perintah Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka itulah orang yang rugi.”

Jadi, jelaslah, orang-orang fasik adalah orang-orang yang sesat, melanggar perintah Allah, dan membuat kerusakan di muka bumi.

Pekerjaan orang fasik memang melakukan kerusakan di muka bumi. Dalam segala hal, termasuk melalui media massa. Dengan cara menyebarkan fitnah. Mereka berharap, masyarakat yang mendengar atau membaca fitnah itu akan percaya, dan selanjutnya bersikap atau melakukan tindakan-tindakan yang merugikan si terfitnah.

Terhadap orang fasik yang menyebarkan berita, Islam jelas-jelas mengingatkan, kita tidak boleh langsung menelan mentah-mentah berita itu. Kita harus memeriksanya dengan teliti. Tanpa mengetahui yang sebenarnya, kita bisa terjerumus ke dalam sebuah tindakan yang merugikan pihak yang menjadi obyek berita tersebut. Dan bila itu terjadi, penyesalanlah yang akan kita rasakan.

Tidak hanya itu, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36).

Baru-baru ini, kita dihebohkan dengan bocornya kawat yang dikirimkan Kedubes AS di Jakarta kepada pemerintah AS di negerinya sana, tentang isu miring SBY, JK, dan lain-lain, sebagaimana ramai diberitakan media massa.

Bahan-bahan yang dikirimkan itu sesungguhnya masih terhitung mentah, belum diolah, sebagaimana resmi diakui oleh pemerintah AS. Oleh karena itu, secara resmi Dubes AS meminta maaf kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Nah, bahan yang masih mentah itu bocor hingga sampai ke Wikileaks. Dan akhirnya The Age, media Australia, tanpa cross check kepada pihak-pihak terkait, main muat saja.

Terkait tulisan yang dipublikasikan The Age, sebagai umt Islam kita mesti benar-benar berpegang kuat pada ayat-ayat Al-Qur’an di atas.

Sebagai sebuah tulisan produk sebuah media, walaupun seperti telah disebut di atas masih terhitung mentah, bagaimanapun, memang ada dua kemungkinan. Pertama, yang ada di The Age itu benar-benar terjadi. Kemungkinan kedua, hanya fitnah.

Untuk yang pertama, toh berbagai pihak telah membantah. Juga menunjukkan ketidaklogisan apa yang ada di The Age, misalnya ihwal posisi Hendarman Supanji saat itu.  

Sedang bila kemungkinan kedua yang terjadi, waspadalah. Jangan sampai kita, umat Islam, terprovokasi fitnah yang kejam, terhadap SBY, misalnya dan khususnya, yang nota bene adalah pemimpin kita, yang juga adalah umat Nabi Muhammad SAW.

Sebelum semuanya menjadi jelas, jangan bersikap atau melakukan tindakan-tindakan yang, sebagaimana diperingatkan dalam surah Al-Hujurat: 6, “menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Khusus buat AS, mudah-mudahan kata-kata Anda selama ini – yakni antara lain bahwa Anda sangat senang bermitra dengan seorang presiden yang kuat, SBY, yang didukung oleh mayoritas rakyatnya – benar-benar tulus datang dari hati nurani.

Kamis, 17 Maret 2011

bila tiba saatnya